BAHAN AJAR
A. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
Kompetensi Dasar
1.
KD.
3.9 Menerapkan Cara Perawatan Sistem Kopling Manual
2.
KD.
4.9 Merawat Secara Berkala Sistem Kolping Manual
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
3.1.1
Menyebutkan
komponen-komponen dan fungsi sistem
kopling manual
3.1.2
Menjelaskan prinsip kerja kopling
3.1.3
Menjelaskan perawatan system kopling manual sesuai SOP
4.1.1
Melakukan
perawatan sistem kopling manual
C. Tujuan Pembelajaran
1.
Setelah
mengumpulkan data Peserta didik dapat menyebutkan komponen-komponen sistem
kopling manual dan fungsinya dengan benar.
2.
Setelah
mengasosiasi data Perserta didik dapat menjelaskan prinsip kerja kopling manual
dengan benar.
3.
Setelah
tayangan video pembelajaran tentang perawatana kopling peserta didik dspst
menjelaskan cara merawat kopling manual dengan benar.
D. KAJIAN MATERI
I. PRINSIP PEMINDAHAN TENAGA

Gambar 1. Rangkaian pemindahan tenaga dari mesin sampai roda
Sepeda motor dituntut
bisa dioperasikan atau dijalankan pada berbagai kondisi jalan. Namun demikian,
mesin yang berfungsi sebagai penggerak utama pada sepeda motor tidak bisa melakukan dengan baik apa yang menjadi kebutuhan
atau tuntutan kondisi jalan tersebut.
Misalnya, pada saat jalanan mendaki,
sepeda motor membutuhkan momen
puntir (torsi)
yang besar namun kecepatan atau laju sepeda
motor yang dibutuhkan rendah. Pada saat ini walaupun putaran mesin tinggi karena katup trotel atau katup gas dibuka penuh namun putaran mesin tersebut harus dirubah
menjadi kecepatan atau
laju sepeda motor
yang rendah. Sedangkan pada saat sepeda motor berjalan pada jalan
yang rata, kecepatan diperlukan tapi tidak
diperlukan torsi yang besar.
Berdasarkan
penjelasan di atas, sepeda motor harus dilengkapi dengan suatu sistem yang mampu menjembatani antara output mesin (daya dan torsi mesin) dengan tuntutan kondisi jalan. Sistem ini
dinamakan dengan sistem pemindahan tenaga.
Ketika piston bergerak
ke atas (TMA) campuran bahan bakar dan udara di dalam silinder dikompresi.
Kemudian campuran
dinyalakan oleh busi dan terbakar
dengan cepat (peledakan). Gas hasil pembakaran tersebut melakukan
expansi (pengembangan) dan mendorong piston ke bawah (TMB). Tenaga ini diteruskan melalui connecting
rod (batang piston), lalu memutar crankshaft.
menekan piston naik untuk mendorong gas hasil pembakaran. Selanjutnya piston melakukan langkah
yang
sama. Gerak piston naik turun yang berulang-ulang diubah
menjadi gerak putar yang halus.
Tenaga putar dari crankshaft ini akan dipindahkan ke roda belakang melalui roda gigi reduksi,
kopling, gear box (transmisi),
sprocket penggerak, rantai dan
roda sprocket. Gigi reduksi berfungsi
untuk mengurangi putaran mesin agar terjadi
penambahan tenaga.
II.
Kopling
Kopling berfungsi
meneruskan dan
memutuskan putaran
dari
poros engkol
ke transmisi (perseneling) ketika
mulai
atau
pada
saat
mesin akan berhenti atau memindahkan gigi. Umumnya kopling
yang digunakan pada sepeda motor adalah adalah kopling tipe basah dengan
plat ganda,
artinya
kopling
dan
komponen kopling lainnya
terendam dalam
minyak pelumas dan terdiri atas beberapa
plat kopling.
Tipe kopling
yang digunakan pada sepeda motor menurut
cara kerjanya ada dua jenis yaitu kopling mekanis dan kopling otomatis. Cara melayani kedua jenis kopling ini sewaktu membebaskan (memutuskan) putaran poros
engkol sangat berbeda.
A. Kopling Mekanis
Kopling mekanis
adalah kopling yang cara kerjanya
diatur oleh handel kopling, dimana pembebasan
dilakukan dengan cara menarik handel kopling pada batang kemudi. Kedudukan
kopling ada yang terdapat pada crankshaft
(poros
engkol/kruk as).
Sistem kopling mekanis
terdiri atas bagian-bagian
berikut :
a) mekanisme handel
terdiri atas: handel, tali
kopling (kabel kopling), tuas (batang) dan pen pendorong.
b) mekanisme
kopling terdiri atas : gigi primer kopling (driven gear), rumah (clutch housing), plat gesek (friction plate) plat kopling (plain plate), per (coil
spring), pengikat (baut), kopling tengah (centre
clutch), plat tutup atau plat
penekan (pressure plate), klep
penjamin
dan
batang penekan/pembebas (release rod).
Rumah kopling (clutch housing) ditempatkan pada poros utama
(main shaft) yaitu
poros yang menggerakkan
semua roda gigi transmisi. Tetapi
rumah kopling ini bebas terhadap
poros utama, artinya bila rumah
kopling berputar poros utama tidak ikut
berputar. Pada bagian luar
rumah kopling terdapat roda
gigi
(diven gear) yang berhubungan dengan roda gigi
pada
poros
engkol sehingga bila poros engkol berputar
maka rumah kopling juga ikut berputar.
Agar putaran rumah kopling
dapat sampai pada poros utama maka pada poros utama dipasang hub kopling (clutch sleeve
hub). Untuk menyatukan rumah kopling deng hub kopling
digunakan dua tipe pelat, yaitu pelat tekan (clutch
driven
plate/plain plate) dan pelat gesek (clutch drive plate/friction plate). Pelat gesek dapat bebas bergerak
terhadap hub kopling, tetapi
tidak bebas
terhadap
rumah
kopling.
Sedangkan pelat tekan dapat bebas bergerak
terhadap rumah kopling, tetapi tidak bebas pada
hub kopling.

Gambar 2. Mekanisme koling mekanis
B. Cara kerja kopling Mekanis

Gambar 3. Handel kopling
ditekan sehingga kopling saat ini tidak meneruskan
putaran dari mesin ke transmisi
Bila handel kopling pada batang kemudi bebas
(tidak
ditarik)
maka pelat tekan dan pelat
gesek dijepit oleh piring
penekan (clutch pressure
plate) dengan bantuan
pegas kopling sehingga
tenaga putar dari poros engkol sampai pada roda belakang.
Sedangkan bila handel kopling pada batang kemudi ditarik maka kawat
kopling
akan
menarik
alat
pembebas kopling. Alat pembebas kopling ini akan menekan batang tekan (pushrod) atau release rod yang ditempatkan di dalam poros utama. Pushrod
akan mendorong piring penekan
ke arah berlawanan dengan
arah gaya pegas kopling. Akibatnya
pelat gesek dan pelat tekan akan
saling merenggang dan putaran
rumah kopling tidak diteruskan
pada poros utama, atau hanya memutarkan rumah kopling dan pelat geseknya
saja.

Gambar 4. Handel kopling
mulai dilepas
Dalam gambar 4 mengilustrasikan
saat handel kopling mulai dilepas sehingga saat ini plat–plat
pada
kopling
mulai
berhubungan antara satu dengan yang lainnya sehingga putaran dari mesin
(chranshaft) mulai diteruskan ke transmisi

Gambar 5. Handel kopling
dilepas
Pada gambar 5 mengilustrasikan saat handel kopling dilepas penuh sehingga putaran dari mesin diteruskan dengan sempurna ke transmisi karena antara plat kopling dan plat gesek pada kopling
sudah saling berhubungan.
C. Tife pembebasan kopling
1. Tipe dengan
mendorong dari arah luar (outer push type)
Pada tipe ini,
jika
handel kopling
ditarik, plat penekan
(pressure plate) akan ditekan ke dalam dari arah sebelah
luar. Dengan tertekannya plat penekan tersebut,
plat kopling akan
merenggang dari plat penekan, sehingga kopling akan bebas
dan putaran mesin tidak diteruskan ke transmisi.

Gambar 6. Pembebas Kopling
tipe outer push
2. Tipe dengan
mendorong ke arah dalam (inner push type)
Pada tipe ini,
jika
handel kopling
ditarik, plat penekan
(pressure plate) akan ditekan ke luar dari arah sebelah dalam. Dengan tertekannya
plat penekan tersebut, plat kopling akan merenggang dari plat penekan,
sehingga kopling akan bebas
dan putaran mesin tidak diteruskan ke transmisi.

Gambar 7. Pembebas Kopling inner push type
3. Tipe rack and pinion
Pada tipe ini, dimungkinkan kopling dapat dihubungkan dan
dilepas secara langsung. Konstruksinya
sederhana namun mempunyai daya tahan yang tinggi sehingga
cocok untuk sepeda motor bermesin
putaran tinggi.

Gambar 8. Pembebas Kopling Tipe rack and pinion
D. Kopling Otomatis
Kopling otomatis adalah
kopling yang cara
kerjanya diatur oleh
tinggi atau
rendahnya putaran
mesin
itu
sendiri, dimana
pembebasan dilakukan
secara
otomatis,
pada
saat
putaran
rendah. Kedudukan kopling berada pada poros engkol/kruk as dan ada juga yang
berkedudukan
pada as primer persnelling/poros utama transmisi (main/input shaft transmisi)
seperti halnya kopling mekanis.
Mekanisme atau peralatan kopling
otomatis tidak berbeda dengan
peralatan yang terdapat
pada kopling mekanis,
hanya tidak ada
perlengkapan handel sebagai gantinya terdapat alat khusus yang bekerja secar otomatis
pula seperti:
1. Otomatis kopling; terdapat
pada kopling tengah (untuk kopling
yang
berkedudukan pada crankshaft),
2. Bola baja keseimbangan gaya berat (roller weight); berguna untuk menekan palat dasar waktu
digas,
3. Per kopling yang lemah; berguna untuk menetralkan (menolkan) kopling
waktu mesin hidup langsam/idle, dan
4. Pegas pengembali (return spring); berguna untuk mengembalikan cepat dari posisi masuk
kenetral bila mesin hidup dari putaran tinggi
menjadi rendah.
Kopling otomatis terdiri atas dua
unit kopling yaitu kopling
pertama dan kopling kedua. Kopling pertama ditempatkan pada poros engkol. Komponennya terdiri
atas
pasangan sepatu (kanvas) kopling, pemberat sentrifugal, pegas
pengembali dan rumah
kopling.
E. Cara Kerja kopling Otomatis
Pada putaran stasioner/langsam (putaran rendah), putaran poros
engkol tidak diteruskan ke gigi pertama penggerak (primary drive gear) maupun ke gigi pertama yang digerakkan (primary driven gear). Ini tejadi karena rumah
kopling bebas (tidak berputar) terhadap kanvas, pemberat, dan pegas pengembali yang terpasang pada poros engkol.
Pada saat putaran mesin rendah (stasioner), gaya sentrifugal dan
kanvas kopling, pemberat menjadi kecil sehingga
sepatu kopling terlepas dari rumah kopling dan tertarik ke arah poros engkol, akibatnya rumah kopling yang berkaitan
dengan gigi pertama penggerak menjadi
bebas terhadap poros engkol.
Saat putaran
mesin bertambah, gaya sentrifugal semakin besar sehingga mendorong kanvas kopling mencapai rumah kopling di
mana gayanya lebih besar dari gaya tarik pengembali. Rumah kopling ikut berputar dan meneruskan ke tenaga gigi pertama
yang digerakkan.
Sedangkan kopling kedua ditempatkan
bersama primary driven
gear pada poros center (countershaft) dan berhubungan
langsung dengan mekanisme pemindah gigi
transmisi/persnelling. Pada saat gigi
persnelling dipindahkan oleh pedal
pemindah
gigi,
kopling kedua dibebaskan oleh pergerakan
poros pemindah gigi

Gambar 9. Mekanisme
Kopling Otomatis
F. PERAWATAN BERKALA SISTEM
KOPLING MANUAL
Tidak serumit cara
mengendarai sepeda motor dengan kopling manual, prosedur perawatannya justru
sangat sederhana dan mudah dilakukan. Kopling manual tidak membutuhkan
pemeriksaan komponen yang ada di dalam mesin selama tidak ada gejala kerusakan
yang ditimbulkan. Terdapat dua macam perawatan berkala system kopling manual,
yaitu :
1. Pemeriksaan dan penyetelan jarak bebas handle kopling
Jarak bebas handel
kopling sangat berpengaruhi kinerja kopling. Jarak bebas yang terlalu jauh
membuat kopling tidak mudah membuka sepenuhnya sehingga menimbulkan selip
kopling. Bila terus terjadi kampas kopling menjadi mudah aus. Jika jarak
bebasnya trlalu kecil atau besar, lakukan penyetelan dengan memutar bau/ mur
penyetel.
Ada dua penyetelan yang
digunakan menyetel jarak bebas handle kopling yaitu penyetelan didekat handle
kopling dan yang berada di dekat tuas penekan kopling (di Mesin)
2. Pelumasan poros/ engsel handel kopling
Agar dapat bergerak dengan baik handle kopling
menggunakan poros/engsel. Poros inisebaiknya harus diperiksa secara berkala dan
bila dibutuhkan dapat ditambahkan sedikit minyak pelumas untuk melumasi posros
di handle kopling. Pelumsan juga dapat dilakukan di mekanisme engsel tuas
pembebas kopling yang ada di dekatmesin. Lumasi dengan minyak pelumas yang
masih baru dan jangan terlalu banyak agar kotoran tidak mudah melekat.
BPR SEPEDA MOTOR HONDA
Untuk BPR sepeda motor honda dapat digoogling sebagai referensi dalam mengajar. jangan lupa selalu kunjungi web kami untuk update info tentang teknik dan bisnis sepeda motor. Terima Kasih
Komentar
Posting Komentar
Bagaimana pendapat saudara tentang blog ini. terima kasih atas koment dan kunjungannya.